Dari Wajibnya Puasa Menuju PILKADA

Setelah takbir dan takhmid berkumandang semalam suntuk,  semua umat muslim memahami bahwa puasa Romadlon harus selesai. Fase berikutnya adalah tanggal 1 Syawal (Hari Raya ‘Idul Fitri) yang sering disebut sebagai hari kemenangan. Kemenangan bagi siapa ?. Jawaban ini bisa kita ketemukan dengan mudah, apabila kita mau merenungi dan berpikir secara runtut dan detail terhadap tahapan-tahapan waktu dan kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan maupun ditinggalkan dalam setiap tahapan waktu tersebut.

Puasa diberi batasan waktu oleh Allah SWT mulai dari waktu imsak hingga terbenamnya matahari, kurang lebih 13 jam 15 menit. Selama dalam waktu tersebut setiap muslim harus melakukan kewajiban-kewajiban seperti melaksanakan sholat fardlu, memberi nafkah keluarganya dan lain-lain. Demikian juga mereka harus menjauhi larangan-larangan dari Allah SWT, seperti makan dan minum pada waktu siang hari, tidak memfitnah dan lain-lain.

Pelajaran yang bisa kita peroleh dari Bulan Romadlon salah satunya adalah penciptaan Allah terhadap kemuliaan yang disertai dengan waktu dan kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan dalam waktu tersebut. Oleh karena itu, siapapun yang mengerti tentang waktu, melaksanakan hal-hal apa yang harus dilakukan dan menjahui larangan-larangan sesuai dengan ketentuan aturan selama Romadlon, dialah yang akan menjadi pemenang pada tanggal 1 Syawal beserta hari-hari berikutnya dan dialah yang disebut muttaqin.

Diskripsi di atas juga memberikan penjelasan kepada kita, bahwa pelaksanaan waktu dan kegiatan-kegiatan di dalamnya secara benar merupakan kontribusi  terbesar bagi keberhasilan setiap muslim. Sudah menjadi dasar fitrah manusia bahwa, dalam penciptaannya beserta hal-hal yang melinggkupinya, Allah SWT selalu menyertakan waktu.

Puasa sama dengan Pilkada

Pilkada/Pemilukada berkaitan tentatif waktu dan hal-hal yang harus dilakukan atau yang ditinggalkan, untuk mencapai kemenangan/fitrah kemanusiaan, ternyata mempunyai kemiripan dengan puasa. Artinya siapapun yang menghendaki pemilukada berhasil dan tujuannya tercapai maka setiap warga Jepara harus mengerti dan menaati waktu atau tahapan-tahapan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan serta menjauhi larangan-larangan dalam pemilukada. Per detik ini semua tahapan, kegiatan-kegiatan beserta larangan-larangan pemilukada sudah di”tablighkan” sampai ke pelosok desa-desa di seluruh Jepara.

Wajib hukumnya bagi setiap warga Jepara yang sudah memenuhi syarat sebagai pemilih dalam pemilukada 29 Januari 2012 untuk meminta informasi mengenai tahapan, kegiatan dan larangan-larangan dalam pemilukada kepada panitia yang ada di tingkat desa atau Panitia Pemungutan Suara (PPS) di balai desa/balai kelurahan. Hal ini pun sama dalam ibadah puasa, di mana orang-orang yang ingin puasanya sah dan benar serta tujuannya tercapai, mereka mempunyai kewajiban untuk bertanya kepada ustadz. Panitia maupun ustadz juga mempunyai kewajiban untuk menyampaikan (tabligh) kepada masyarakat.

Hari H Pemilukada Jepara, merupakan rangkaian kegiatan yang sangat menentukan bagi pemilih. Pemilih berkewajiban “isbat” secara individual berkaitan dengan pilihannya. Sebagaimana istbat (penetapan) 1 Syawal 1432 H yang dilaksanakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia memerlukan adanya bukti-bukti yang kuat terhadap kepastian munculnya hilal. Kepastian apakah esok hari sudah tanggal 1 Syawal atau belum harus didasarkan pada hitungan yang “benar” dan terlihatnya hilal.

Demikian juga dalam pemilukada untuk menentukan pasangan calon yang mampu mensejahterakan dan mengayomi masyarakat Jepara secara total, diperlukan adanya “ru’yatul” Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati. Ru’yah pasangan calon ini dilaksanakan melalui pemahaman terhadap visi, misi dan program-program serta rekam jejak karakter setiap pasangan calon yang dapat menjamin sejahteranya Jepara secara menyeluruh.

Tipisnya Perbedaan

Puasa dimaksudkan untuk membentuk pribadi setiap individu menjadi sosok yang bertakwa, sehingga berawal dari individu yang bertakwa juga diharapkan akan membentuk komunitas sosial yang bertakwa pula. Sedangkan pemilukada dimaksudkan untuk membentuk struktur kepemimpinan yang diseleksi oleh setiap warga yang memenuhi syarat, supaya dapat mewujudkan komunitas sosial yang baik dan sejahtera. Perbedaan keduanya berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai hanya terletak pada metode pelaksanaannya saja. Puasa menggunakan metoda induktif dalam menata komunitas sosial, sedangkan pemilukada menggunakan metoda deduktif

Oleh karena itu pemilukada merupakan kewajiban individu untuk menentukan pemimpin Jepara periode 2012 – 2017 dengan syarat-syarat ; warga Jepara berusia 17 Tahun atau belum 17 Tahun tetapi sudah/pernah kawin (dibuktikan dengan KTP/Kartu Keluarga/Surat Keterangan), Tidak sedang dicabut hak pilihnya dan Terdaftar dalam Data/Daftar Pemilih. Karena pemilukada merupakan kewajiban individual untuk memilih pemimpin Jepara, maka kesalahan yang dilakukan secara individu akan menjadi “dosa” individu. Dosa ini akan bertambah manakala dari kesalahan individu tersebut menyebabkan kerusakan secara komunal.

Melalui momentum hari yang fitrah ini, KPU Kabupaten Jepara mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H dan Mohon Maaf Lahir dan Batin, seraya berdo’a semoga kita semua bisa mengambil dan mendapatkan hikmah-hikmah pelaksanaan Puasa Romadlon untuk mencapai “kemenangan” bagi seluruh rakyat Jepara dalam Pemilukada 2012. Amin.

Ditulis oleh ;

Muhammad Haidar Fitri, S.H.

Anggota KPU Kab. Jepara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: