Kedewasaan Politik Masyarakat Jepara


Baliho bergambar bakal calon yang diperkirakan akan maju dalam Pilbup Jepara 2012  tampak mulai terpasang semarak di semua penjuru Jepara. Masyarakat mulai menduga-duga, siapa saja yang akan menjadi calon dalam Pilbup Jepara 2012 nanti. Geliat Pemilukada mulai terasa. Pemasangan potret di baliho  itu memberi waktu kepada masyarakat untuk lebih mengenal  siapa yang akan dipilih jika tiba saat pemungutan suara. Tapi benarkah masyarakat mensikapi muram Pilbup Jepara 2012 ?

Beberapa Kekhawatiran

Beberapa kali dipublikasikan media kekhawatiran tentang kemungkinan turunnya partisipasi masyarakat dalam Pilbup nanti. Bahkan dalam pemberitaan Suara Merdeka terakhir seluruh pesimis itu menemukan kesimpulannya bahwa sepinya Pilbup Jepara disebabkan beberapa hal yaitu: tidak maksimalnya sosialisasi yang diadakan oleh penyelenggara, partisipasi media sebagai penyalur informasi belum maksimal, bakal calon yang masih malu-malu dalam mendeklarasikan diri dan yang terakhir Pilbup Jepara 2012 hanya konsumsi elite. Trend penurunan partisipasi pemilih dari Pemilu ke Pemilu pun juga diwacanakan sebagai satu kekhawatiran tambahan. Kajian dan kesimpulan-kesimpulan yang  disuarakan oleh para pihak itu, sungguh dapat dipahami karena adanya anggapan kurangnya antusias warga Jepara dalam menyongsong Pilbup Jepara 2012. Seluruh kekhawatiran itu pun sempat juga menyergap penyelenggara Pemilukada bahwa rasa muram itu akan menjadi nyata, padahal upaya sosialisasi sudah “mati-matian” dirancang, dilaksanakan, dan akan direalisasikan.

Melihat dari Sisi yang Berbeda

Tentang kekhawatiran turunnya angka partisipasi pemilih dalam Pilbup Jepara 2012 nanti dibandingkan Pemilu sebelumnya, perhitungan matematika mendalilkan bahwa Angka Partisipasi Pemilih diperoleh dari Jumlah pemilih yang menggunakan hak pilih dibandingkan dengan Jumlah DPT (Daftar Pemilih Tetap). Penurunan dapat disebabkan karena jumlah DPT yang lebih besar pada Pemilu berikutnya. Data yang ada menunjukkan, pengguna hak suara Pileg 2009 adalah 579.420 dengan jumlah DPT 808.800 sementara pada Pilpres 2009 jumlah DPT 813.802 dan jumlah orang yang datang ke TPS sebesar 573.816. Artinya jika perbedaan jumlah pengguna hak pilih tidak mampu melampaui perbedaan jumlah DPT dari Pemilu sebelumnya, angka partisipasi akan turun.

Keademan masyarakat Jepara juga harus dilihat dari sisi yang lebih terang. Belajar dari kisruh Pemilukada di kabupaten lain, tentu seluruh masyarakat Jepara tidak ingin itu menjadi virus menular yang menyebar ke Jepara. Kita semua berharap akan melewati seluruh tahapan Pilbup Jepara 2012 dengan lancar dan selamat dan berakhir baik. Tahapan Pelaksanaan Pilbup Jepara 2012 baru dimulai. Awal dari pelaksanaan Pemilukada adalah pemutakhiran data Pemilih dan tahapan ini sedang berjalan, belum selesai. Proses ini ada di masyarakat saat pemilih di data agar hak konstitusionalnya dapat digunakan. Berikutnya adalah tahap pendaftaran calon yang akan dibuka pada bulan November. Jika salah satu ukuran sepinya Pemilukada adalah hiruk pikuk penggalangan suara pasangan calon dalam mendulang suara sebanyak-banyaknya, tahapan itu pun (kampanye) belum dimulai.

Sekarang sudah tampak terlihat (kemungkinan) bakal calon tampak tidak “malu-malu” lagi menunjukkan dirinya. Situasi ini harus dilihat sebagai upaya bakal calon untuk mensosialisasikan dirinya ditengah masyarakat pemilih. “Penampakan” itu harus jauh-jauh hari dilaksanakan karena untuk memperkenalkan diri atau mengajak masyarakat memilih bila tiba saat pemungutan suara tanggal 29 Januari 2012, tidak akan cukup jika menggunakan saat kampanye saja. Mengingat waktu kampanye Pemilukada hanya 14 hari. Telah terasa juga pergerakan bakal pasangan calon menarik simpati masyarakat. Semua daya upaya itu terjadi dengan “soft”,  tidak menimbulkan riak dan benturan diantara anggota masyarakat. Bukankah itu yang kita inginkan bersama, situasi tetap adem dipermulaan tahapan Pemilukada bahkan sampai berakhir nantinya.

 

Kedewasaan Politik Masyarakat Jepara

Potret kondisi ini menunjukkan kedewasaan politik masyarakat Jepara dengan tidak “jor-joran” dalam memulai upaya menarik massa pendukung. Semua dibiarkan dengan caranya sendiri-sendiri dan tidak saling mengganggu. Masyarakat Jepara sadar bahwa setiap tahapan memerlukan pemahaman dan sikap yang berbeda. Kesadaran politik masyarakat untuk menyesuaikan dengan situasi,  lebih baik diteropong dengan lensa yang lebih terang, sementara kita letakkan dahulu sudut pandang muram dan pesimis. Kita sedang ingin menunjukkan pada “dunia” bahwa Jepara aman bagi siapapun untuk dikunjungi, untuk didatangi investor, untuk merasa aman tinggal di Jepara walaupun sedang berlangsung proses pergantian kepemimpinan.

Analisis situasi kondisi perilaku masyarakat pemilih, memimjam teori yang dikembangkan oleh para pakar ilmu politik dapat dilihat dari perspektif rasional politis dan dari sudut pandang psikologis. Perilaku pemilih dari perspektif rasional politis diadaptasi dari ilmu ekonomi karena adanya analogi antara “hukum pasar” (ekonomi) dengan perilaku pemilih (politik). Jika dalam “paham” ekonomi anggota masyarakat dapat bertindak rasional maka dalam perilaku politik, masyarakat akan dapat bertindak secara rasional pula yaitu menekan biaya sekecil-kecilnya untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Pertimbangan rasional tidak hanya berupa memilih alternatif yang paling menguntungkan atau yang mendatangkan kerugian paling sedikit, tetapi juga dalam arti memilih alternatif yang menimbulkan resiko yang paling kecil. Itu karena Masyarakat Jepara mempunyai kemampuan untuk menilai perubahan politik dan atau perubahan kepemimpinan di Kabupaten Jepara harus berjalan dengan cara damai. Dalam konteks ini, Him Melweit (Ramlan Surbakti, 1992: 17) mengatakan bahwa orang memilih suatu organisasi sosial politik merupakan pengambilan keputusan yang bersifat sementara dan cepat, tergantung pada situasi sosial politik tertentu.

Sementara sudut pandang psikologis menganggap sikap sebagai variabel sentral dalam menjelaskan perilaku pemilih. Greenstein (dalam Muhammad Asfar, 1996: 53-55) menjelaskan tiga fungsi sikap, yaitu: Sikap merupakan fungsi kepentingan, Sikap sebagai penyesuaian diri dan Sikap sebagai fungsi eksternalisasi dan pertahanan diri. Namun sikap bukanlah sesuatu yang bersifat semula jadi, tetapi terbentuk melalui proses yang panjang. Perubahan perilaku masyarakat dalam memilih atau mensikapi Pemilukada Jepara bisa jadi karena tuntutan-tuntutan baru dan perubahan lingkungan sosiopolitik secara umum. Perilaku masyarakat Jepara dalam mensikapi pergantian pemimpin di daerahnya selayaknya tidak dipandang dari sisi muram atau pesimis. Masyarakat Jepara sudah belajar dari pengalaman Pemilukada di kabupaten lain atau sejarah pemilukadanya sendiri, sehingga pada Pilbup Jepara 2012 ini masyarakat Jepara telah menentukan sikapnya untuk melewati setiap tahapan pemilukada secara tertib, aman dan damai. Rasa optimis harus disebarkan dan dipilih oleh semua pihak baik pemangku kepentingan dan penerima manfaat Pilbup Jepara 2012. Rasa Optimis itu harus dipercayai dan dikembangkan jika tidak, maka seluruh yang ada dalam pikiran kita tentang kemuraman Pilkada akan menjadi nyata. Karena kita akan bertindak berdasar cara pandang dan keyakinan yang kita anggap benar.  Seluruh kajian, analisis kondisi masyarakat menjelang pelaksanaan Pilbup Jepara 2012, dapat dipahami dalam kerangka menggerakkan kesadaran politik masyarakat  untuk mencapai kepercayaan politik masyarakat, yang tinggi. Berpangkal dari itu kemudian kita segera bergegas dan berderap untuk “membangunkan” masyarakat bahwa kita sedang punya perhelatan besar.

Gerakan sukses Pilbup Jepara 2012 yang dicanangkan KPU Jepara pada launching Maskot dan Logo Pilbup tanggal 1 Juni yang lalu, adalah ajakan untuk bertindak bersama-sama (gerakan) antara penyelenggara dengan semua mitra kerja dan masyarakat pemilih. KPU Jepara tidak dapat bekerja sendiri untuk membangun optimis, menggugah dan mengajak masyarakat berpartisipasi dalam setiap tahapan pelaksanaan Pilbup Jepara 2012. Pada akhirnya Mari kita bergandengan tangan untuk mencapai sukses proses guna mencapai sukses hasil Pilbup Jepara 2012.

Penulis:

Dewi Fatimah, ST. M.Si

Anggota KPU Jepara

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Suara Merdeka, minggu ke 2 bulan Oktober 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: