‘Saatnya Calon Dari Partai’

Akhirnya pemilukada kita tanpa diikuti calon perseorangan. Kepastian ini menyusul urungnya Almasri mendaftar ke KPU kemarin. Almasri tidak jadi mendaftar dikarenakan dukungan yang dikumpulkannya tak cukup untuk memenuhi ketentuan syarat dukungan minal. Dengan tidak jadiya Almasri ini, otomatis tak seorangpun dari nama-nama yang selama ini mewacanakan akan maju melalui jalur perseorangan yang menjadi pasangan calon peserta pemilukada kita nanti. Almasri, selama ini dikenal sebagai orang yang pertama kali mendeklarasikan diri akan maju lewat jalur perseorangan, dan dia pulalah yang menjadi orang terakhir yang memastikan tidak adanya calon perseorangan dalam pemilukada Jepara ini.

Kegagalan Almasri mendaftar sebagai calon perseorangan ini, sekaligus menegaskan bahwa maju lewat jalur perseorangan ini memang tidak mudah, meskipun dibanyak daerah lain calon-calon perseorangan berhasil memenuhi syarat dukungan dan sukses menjadi calon, tetapi tidak demikian dalam pemilukada yang terjadi di jepara.

Seperti yang kita ketahui bersama, pada awalnya banyak tokoh yang menyatakan positif akan maju lewat jalur ini, setidaknya menurut catatan ada 5 (lima) sampai 7 (tujuh) orang, tetapi pada akhirnya, mereka tak sanggup memenuhi syarat dukungan 3% dari jumlah penduduk, bahkan untuk sekedar mencari pasangan saja mereka tidak ketemu, akhirnya mereka beralih ke tracknya, yaitu jalur partai politik

Tampaknya kita memang harus kembali merenung, bahwa jalur perseoragan dibuka sebagai jalur alternatif menjadi peserta pemilukada ini, pada awalnya adalah jawaban dari kebuntuan terhadap partai politik yang konon dalam proses perekretuan calon, lebih cenderung menggunakan model transaksional. Partai politik lebih banyak menjadikan dirinya sebagai perahu sewa bagi calon, siapa yang berani bayar lebih dia yang akan mengendarai perahu itu. Oleh karena sistem yang demikian inilah, publik menjadi tidak tidak sepenuhnya terwakili aspirasinya, publik terpaksa harus menerima calon-calon yang berhasil menyewa perahu partai politik tersebut untuk memilih, meskipun tidak sesuai selera.

Inilah yang terjadi terhadap proses perekrutan calon dari partai politik. Belum lagi kalau ada politisasi di sana untuk menyandera pelaksanaan pemilihan, pemilukada bisa jadi tidak dapat dilaksanakan karena kepentingan politik itu. Dengan demikian partai politik menjdai sangat berkuasa, memainkan kepentingannya yang justru menjauhkan aspirasi konstituen yang diwakilinya. Maka hadirnya calon perseorangan ini, sebenarnya didesain menjadi jawaban jika terjadi ketidakpercayaan terhadap partai politik dalam perekrutan calon, begitu juga jika rakyat tak cukup bisa berharap terhadap partai politik untuk memunculkan figur yang sesuai harapan.

Calon perseorang yang juga disebut calon independen ini dengan sejumlah persayaratan untuk dipenuhi diharapkan menjadi jalur alternatif selain partai politik dalam menyediakan figur yang dapat dipilih dalam pesta demokrasi di daerah. Tetapi apa boleh buat, peraturan untuk itupun didesain tak sebegitu ramah bagi calon perseorangan ini, dibuatlah syarat yang cukup njlimet dan berat, sehingga tak semua orang yang akan maju, bisa memenuhi persyaratan-persyaratan tersebut. Mereka yang mau maju harus benar-benar figur atau tokoh kuat di masyarakat, dan mereka tampaknya juga harus memiliki modal untuk dapat memenuhi keinginan itu.

Oleh karena itu mereka harus tak sekedar memiliki keinginan untuk maju, tetapi juga harus didukung sepenuhnya oleh masyarakat, tanpa itu semua mustahil mereka berhasil menjadi calon perseorangan ini. dan inilah tampaknya yang terjadi dengan pelaksanaan pemiljukada kita ini, nama-nama itu urung maju karena merasa hanya punya keinginan, tetapi belum memiliki dukungan dari para masyarakatnya, maka di detik-detik terakhir kita menunggu mereka mendaftar, terdengatr berita kalau mereka membatalkan niat maju lewat perseorangan, tetapi maju lewat kendaraan partai politik, mungkin dalam alam pikirnya akan terasa lebih mudah (tidak ribet) melaui partai.

Partai politik dan gambar baliho itu

Begitu pintu perseorangan tertutup, maka jalan yang masih terbuka saat ini adalah kembali melaui partai politik.

Ya, saat ini pasangan calon yang masih memungkinkan untuk mendaftar adalah melalui partai politik, dan jika melalui jalan ini maka sangat tergantung akan adanya kesepakatan-kesepakatan atau deal-deal sesuai alam partai politi yang bahasa teknisnya adalah sesuai mekanisme internal partai politik tersebut. Dengan hanya melalui partai politik masyarakatpun tinggal menunggu siapa calon yang akhirnya akan diusung oleh partai ini, penyelenggarapun juga sangat bergantung pada partai ini untuk dapat melanjutkan tahapan pemilukadanya, semoga saja berlanjut sukses.

Nah, sekarang bagaimana partai-partai politik ini menyiapkan para calonya. Kita pasti tidak lupa dengan gambar-gambar baliho yang tiap hari bisa kita lihat di sepanjang jalan raya dan perempatan itu. Makin hari gambar baliho ini makin bertambah saja, tidak hanya volume titik pemasangannya, tetapi wajah yang terpampang juga makin bertambah. Kalau boleh disebut , gambar-gambar itulah yang sejauh ini tidak masuk dalam deretan nama-nama calon perseorangan, kalou toh sempat ada, tetepi hari ini sudah dipastikan tidak akan lagi maju lewat jalur perseorangan ini. Oleh karena itu publik harus mafhum, bahwa gambar-gambar itulah yang paling tidak akan mengisi calon dari partai politik nantinya. Meskipun sampai hari ini partai-partai itu belum selesai menentukan pasangan yang akan diusungnya, namun mengamati wajah-wajah yang tampak dalam gambar tersebut penuh senyum dan optimis untuk bisa menjadi calon dari partai-partai itu.

Ya, dari gambar-gambar baliho itu paling tidak kita bisa berharap sedikitnya akan ada 3 (tiga) sampai 4 (empat) atau bahkan 5 (lima) pasangan calon dari patrtai politik kita. Dan karena itu kerisauan publik terhadap belum munculnya pasangan calon, akan bisa terobati oleh kesempatan ini, kita harus percaya bahwa partai-partai itu pada waktunya akan selesai dengan mekanisme internalnya masing-masing dalam menghusung calon. kita juga yakin gambar-gambar itu tidak sekedar menghiasi pemandangan jalan raya dan perempatan saja, tetapi menggambarkan bahwa mereka benar-benar siap dengan segalanya untuk menjadi pasangan calon yang nanti dipilih. senyum-seyum mereka dalam gambar itu juga menandakan bahwa pemilukada kita nanti akan sukses segalanya, sukses penyelenggaraannya begitu jiuga sukses hasilnya. Senyum -senyum itu jelas menandakan harapan masyarakat akan perubahan yang dihasilkan dari pesta demokrasi ini, seyum-senyum itu juga menyiraktan janji kesejahteraan dan keadilan akan dilaksanakan andaikan kelak berhasil terpilih menjadi pemimpin di Jepara ini.

Oleh karena itu, kita semua harus sabar untuk menunggu, menungghu partai-partai itu selesai dengan gambar-gambar baliho itu, dan juga sabar menunggu tahapan pencalonan untuk partai politik yang baru dibuka pada tanggl 2 – 8 November mendatang. Justru sembari menunggu mereka selesai, kita hari ini harus tetap fokus pada tahapan pemilukada yang tengah dijalani. Bagi penyelenggara harus tetap fokus pada tahapan pemutaklhira pemilih yang saat ini sedang tahap memperbaiki Daftar Pemilih Sementara (DPS) yang telah diumumkan sejak 5 Oktober kemarin dan akan berakhir 25 oktober besok, disamping itu juga memasukkan nama-nama yang belum masuk dalam DPS ke daftar pemilih Tambahan (DPTamb). Sedangkan bagi publik harus memastikan dirinya sudah terdaftar sebagai pemilih dengan melihat dan mencermati namanya dalam pengumuman DPS tersebut, apabila belum tercantum dipersilahkan menghubungi petugas (PPS/PPDP/RR/RW) untuk di data. Syukur-syukur dalam proses pencalonan partai politik itu, publik juga aktif mendorong partai-partai itu untuk mengusung calon yang benar-benar sesuai harapan masyarakat, sehingga dalam pemilihan nanti mendapat kepecayaan dari mayoritas publik yang memilih. Jika kepercayaan untuk milih figur ini ada, dan kesadaran untuk menggunakan hak memilih itu tinggi, pasti partisipasi pemilih dalam pemilukada kita nanti akan tinggi. Partisipasi masyarakat yang tinggi inilah yang menjadi ukuran terpenting dalam penyelenggaran pemilukada yang sukses dan menghasilkan kepemimpinan yang legitimate.

Kembali kepada siapa calon yang akan dipilih nanti, kini saatnya partailah yang menentukan, dan mari kita nantikan episode berikutnya pada tanggal 2 sampai 8 November mendatang. [] /Muslim Aisha, Ketua KPU Jepara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: