‘Demokrasi Warga Nyamuk’

 Sabtu-Minggu kemarin, KPU Jepara berkesempatan melakukan monitoring kesiapan pemilukada di Karimunjawa. Kali ini kegiatan difokuskan untuk memastikan pelaksanaan pemutakhiran data pemilih di kepulauan ini berjalan lancar dan tak menemui kendala apapun, data yang dihasilkan harus akurat dan tidak ada satu-pun warga yang tidak terdaftar. Akhirnya monitoring-pun diarahkan ke seluruh desa yang ada di Karimunjawa termasuk Pulau  Nyamuk yang baru saja menjadi desa dan secara kebetulan usai menghelat pemilihan petinggi untuk pertama kalinya.

Ya, tanggal 26 Oktober yang lalu akhirnya menjadi hari yang bersejarah bagi warga  Pulau Nyamuk, karena pada hari itu, mereka  resmi memiliki Kepala Desa dengan dilantiknya Sudarto oleh Bupati Jepara menjadi petinggi. Sejak terbentuknya perkampungan Pulau Nyamuk, baru hari itu memiliki petinggi. Selama ini, sebagai salah satu Dukuh di Desa Parang, Nyamuk dipimpin oleh seorang Kepala Dukuh atau seorang Kamituwo. Dan ketika resmi memisahkan diri menjadi desa sendiri, serta akhirnya diadakan pemilihan petinggi, maka hari itu Desa Nyamuk telah dipimpin seorang petinggi. Tentu saja dengan hadirnya petinggi ini kesejahteraan warga harapannya makin bisa ditingkatkan dari pada sebelumnya. Dan warga Nyamuk secara administratif, sejak hari itu tidak harus nyebrang ke Pulau Parang untuk sekedar mengurus keperluan administrasi warganya.

Selama ini, memang tidak banyak orang yang mengetahui keberadaan Pulau Nyamuk ini, bukan saja karena letaknya yang merupakan bagian dari kepulaun Karimunjawa, tetapi barangkali informasi yang berkaitan tentang Pulau Nyamuk juga tidak ada yang perlu diakses keberadaannya karena kalah dengan desa induknya Pulau Parang. Padahal dari sisi ekonomi, warga Nyamuk justru memiliki  tingkat perekonomian warganya yang diatas rata-rata warga di Karimunjawa pada umumnya, hal ini dikarenakan warga Pulau Nyamuk bisa bekerja selama 24 jam penuh dibanding warga di kepulauan lainnya yang hanya 12 jam. Begitpun mengeni  potret sosio kultural masyarakatnya, warga Nyamuk meskipun terdiri dari beragam suku ; Jawa, Madura, Nias, Buton, Bajo, mereka tetap terlihat rukun dan guyub, demkikian halnya dengan basis agama dan idiologinya, seratus persen warga Pulau Nyamuk beragama  muslim dengan kultur santri dan nasionalis.

Sesaat sesetelah resmi menjadi sebuah desa, Pulau yang berpeduduk sekitar 632 jiwa itu akhirnya menjalani pemilihan petinggi pada tanggal 2 Oktober yang lalu. Ini merupakan pengalaman pesta demokrasi yang pertama kalinya bagi warga pulau Nyamuk tersebut. Pada pemilihan itu tampil 3 orang calon sebagai peserta pemilihan , yaitu Sudarto (44), Rosyidi (36) dan Masjud (42). Ketiga calon peserta pemilihan petinggi ini kalau dirunut-runut masih  dalam ikatan sauadara atau keluarga. Konon, saking kuatnya keinginan tokoh-tokoh ini untuk memiliki sebuah desa sendiri, segala keperluan pelaksanaan pemilihan disokong oleh semua warga, seluruh kelompok warga yang memiliki kas anggaran diurunkan untuk mengongkosi keperluan pemilihan ini, begitu juga alokasi anggaran dari ADD untuk warga Pulau Nyamuk, seluruhnya dialokasikan untuk keperluan ini. dengan demikian jadilah pesta demokrasi desa Nyamuk ini benar-benar pesta rakyat ; dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat. Calon  yang dipilih adalah dari warga, pemilihannya dilakukan oleh warga berikut seluruh anggarannya, serta tentu saja hasilnya merupakan pilihan warga yang kembalinya untuk warga. Karena itu selama proses pemilihan berlangsung, tidak terdengar isu-isu mengenai money politik, isu-isu black campaign, apalagi konflik dan kekerasan karena perbedaan pilihan (menurut catatan, memang selama ini tak pernah terjadi konflik antar warga sejak terbentuknya perkampungan warga hingga sekarang ini).

Setelah semua tahapan dijalani dengan sangat lancar, tibalah saat pemilihan dilaksanakan, satu-persatu warga yang terdaftar sebagai pemilih menggunkan hak pilihnya dengan tenang an tertib, dan di akhir pemilihan, akhirnya Sudarto (44) yang  tampil sebagai petinggi terpilih.  Ia  berhasil memperoleh suara terbanyak ; 176 suara atau 55.34 %, sementara Rosyidi memperoleh 72 suara atau 22.64 % dan Masjud 70 suara atau 22.01 %. Dari hasil pemilihan diketahui partisipasi pemilihnya mencapai 87.84 % atau diikuti oleh sebanyak 318 pemilih. Hal ini menunjukkan bahwa pemilihan petinggi yang baru pertama kalinya dijalani itu disambut sangat meriah dan kesadaran politik yang tinggi oleh warganya.

Tentang partisipasi ini, mungkin tidak terlalu mengherankan, karena selama ini pemilihan petinggi yang digelar di desa-desa  di Jepara, partisipasinya  rata-rata di atas 70 %. Apalagi sebagai sebuah desa baru, dan pengalaman pemilihan yang pertama kalinya, maka keterlibatan mayoritas warganya dalam pelaksanaan pemilihan itu sangat wajar, sebuah sambutan pesta demokrasi lokal yang memang sudah seharusnya.

Akan tetapi yang patut dijadikan pelajaran berharga adalah proses demokrasi desa itu yang dijalaninya penuh semangat, penuh kejujuran, dan yang pasti berjalan sangat damai serta menunjukkan pendidikan politik warga yang sangat tinggi.  Dalam pemilihan itu kalah-menang benar-benar menunjukkan hal yang biasa. Sudarto yang akhirnya terpilih itu adalah petinggi mereka. Sementara Rosyid dan Masjud sebagai calon yang kalah juga dapat menerima kekelahannya dengan legowo dan bahkan menyelamati Sudarto yang menang. Sikap seperti ini tampaknya bukan semata-mata karena mereka yang masih saudara atau satu keluarga, tetapi juga karena memang tidak ada alasan apapun untuk tidak menerima hasil pemilihan itu, merekapun tak perlu memprotes proses yang telah dijalanainya dengan sangat demokratis itu. Dan dalam kenyataannya pasca pemilihan, calon yang kalah itu tetap menyatakan  mendukung dan guyub untuk menapaki masa depan desanya yang kini telah memiliki petinggi itu.

Belajar dari Nyamuk

Hari ini, meskipun kita masih menunggu kepastian siapa saja para calon yang menjadi peserta dan yang kita pilih besok, paling tidak pengalaman demokrasi warga Nyamuk ini bisa kita jadikan contoh untuk menjalani pemilukada mendatang. Semangat memiliki pemimpin harus ditumbuhkan kepada seluruh warga, dan  siapapun yang jadi nanti adalah Bupati dan Wakil Bupati yang  kita pilih. Bupati dan Wakil Bupati yang terpilih itu juga adalah Bupati dan Wakil Bupati yang harus kita dukung untuk menjalani tugas-tugas berikutnya.

Sehingga dengan demikian, bisa ditegaskan bahwa betapapun kondisinya, aroma kompetisi dan persaingan dalam suatu pemilihan, pemenang harus ditentukan, tampilnya seorang pemenang tersebut berarti mengakhiri sebuah permainan. Dan yang kalah berarti harus bisa menerima kekalahannya, dan sudah seharusnya menghormati yang menang.

Jika kita senantiasa dapat memahami hal-hal yang demikian, pemilukada yang akan kita jelang pada tanggal 29 Januari  mendatang itu, dapat dipastikan akan berjalan sukses, damai dan kondusif. Bupati dan Wakil Bupati terpilih juga akan menjalankan program-program yang telah dijanjikan pada saat kampanye dengan nyaman. Sementara yang kalah akan  merasa dihargai, karena tetap diajak dan dilibatkan dalam proses pembangunan berikutnya. Para pendukung itupun akhirnya tidak harus merasa ada yang menang dan yang kalah, tetapi wargalah yang akhirnya memiliki pemimpin baru yang siap menghantarkan masa depan Jepara.

Nah, jika pada pemilukada besok, kita berharap adanya perubahan akan  kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh warga Jepara seperti itu, kenapa kita tidak belajar pengalaman demokrasi di Desa Nyamuk itu. Dar semua itu, kita mungkin hanya perlu meluruskan pikiran serta mengumpulkan seluruh energi kita, untuk kemudian diarahkan seperti seolah-olah kita baru akan menjalani pemilukada yang pertama kali, seolah-olah kita seperti akan memiliki Bupati dan Wakil Bupati baru yang akan mewujudkan segala harapan-harapan itu. Semoga.[]  (Muslim Aisha yang sedang terapung-apung pulang dari lawatan di kepulauan Karimunjawa, 30 Oktober 2011)

Satu Tanggapan to “‘Demokrasi Warga Nyamuk’”

  1. Ededdeehh ngingetin tempat kerja lama, bersama teman2 akrab di Mercusuar Nyamuk…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: