“Laris manis…”

Laris manis inilah kalimat yang membanjiri ponsel anggota  KPU sesaat setelah pendaftaran di tutup kemarin. “Selamat , pemilukada laris manis…semoga sukses”, begitu salah satu bunyi sms itu. Memang, di hari terakhir itu, akhirnya empat pasangan calon mendaftar ke KPU,  padahal sebelumnya disepanjang hari-hari pendaftaran, bunyi-bunyian  sms itu masih bilang “ Dodolane KPU rak payu, sepi gak ada yang beli..”. Bunyi-bunyian ini  nyelonong deras di ponsel personel KPU, begitu pula obrol-obrolan yang ada nyaris selama masa pendaftaran. KPU-pun diledek “di jual murah aja, diobral aja biar banyak yang ndaftar”.

mendapatkan respon yang seperti ini, KPU selalu menyambutnya dengan bilang “ masih ada waktu, masih ada hari terakhir, tunggu saja detik-detik terakhir pendaftaran”. KPU-pun lantas meyakinkan bahwa pada akhirnya nanti pasti akan ada pasangan yang mendaftar, kendatipun KPU sebenarnya mulai memikirkan juga langkah-langkah setrategis yang diperlukan, sekiranya memang tidak ada pasangan yang mendaftar, atau kalupun ada kurang dari dua pasangan calon. KPU-pun terpaksa harus merencanakan langkah-langkah berikutnya yang harus ditempuh. KPU-akhirnya mengirim surat juga  ke KPU Propinsi  Jawa tengah untuk mengkabarkan perkembangan pelaksanaan pemilukada di Jepara, dan sekiranya diperlukan agar KPU Propinsi Jawa Tengah dapat melakukan asistensi terhadap kondisi Pemilukada yang seperti itu.

Namun, yang terjadi akhirnya adalah ‘happy ending”, layaknya cerita-cerita dalam film itu, menegangkan, hampir tragis, menyedihkan tetapi berakhir dengan senyuman dan kelegaan. Laris manis seeperti kata sms-sms itu. KPU-pun tak bisa menutupi rasa plongnya ke publik, perasaan lega yang tiada tara karena pemilukada akan berjalan sesuai jadwal dan tahapan yang telah ditetapkan. Bukan hanya itu saja, pesimesme publik terkait dengan siapa pasangan calon yang akan dipilih kelak, yang hadir membayangi pelaksanaan pemilukada ini serta kian memuncak pada saat pendaftaran pasangancalon ini bisa sirna dan tertepis. Kini publik tahu bahwa pasangan calon yang sebentar lagi ditetapkan menjadi peserta pemilukada ini tidak hanya ada dua pasangan, tiga pasangan, tetapi empat pasangan, sebuah jumlah yang cukup mengejutkan mengingat alotnya dinamika yang terjadi diinternal partai selama ini. Empat pasangan calon ini juga menjadikan tersedianya pilihan alternatif yang lebih dari cukup. Barangkali publik-pun kini tidak harus lagi merisaukan partisipasi yang diramalkan dalam pemiluka kita nanti rendah karena belum munculnya calon. Ya, empat pasangan calon ini, jika dalam prosesnya, semua maksimal dalam melakukan sosialisasi dan memobilisasi massanya, partisipasi pemilukada kita nanti akan mendorong tingginya angka partisipasi publik dalam pemilukada kita.

Lebih dinamis

Jika tak berlebihan, dinamika sosial-politik yang terjadi dalam pemilukada kita kali ini, tidak kalah menegangkan dibanding pemilukada  lima tahun yang lalu. Bahkan bisa jadi memiliki bobot dramatis dibanding pemiljukada yang lalu. Munculnya empat pasangan calon dalam pemilukada ini, dibanding tiga pasangan calon dalam pemilukada yang dulu adalah salah satu alasannya. Sementara untuk menyebut alasan yang lain adalah kemunculan empat pasangan calon yang berada di detik-detik terakhir ini menunjukkan sebuah proses dinamika yang sungguh luar biasa yang terjadi di internal partai-partai pengusung.  Tidak saja karena prosesnya yang sangat liat dan alot,  tetapi juga format koalisi yang terjadi sungguh di luar dugaan. Sengguh  nganeh-anehi jika melihat konfigurasi dan peta geopolitik hasil pemilu 2009 yang ada di Jepara. Format kaoalisi yang terjadi saat ini betul-betul berbeda dengan yang terjadi pada pemilukada sebelumnya.  Bisa kita lihat misalnya,  koalisinya yang terjadi antara Partai Golkar dengan Partai Gerindra, Partai Demokrat dengan Partai Hanura, PDIP dengan PKB, PKS dan PKNU serta format koalisinya PPP dengan PAN dan PKP indonesia. Format dan konfigurasi koalisi seperti ini hampir mustahil terjadi dalam pemilukada sebelumnya.  Bahkan kita bisa saksikan bahwa yang dulu menjadi lawan atau pesaing politik sekarang bersatu,  yang dulu bersatu , kini berada pada posisi pesaing karena sama-sama menjadi pengusung, luar biasa !.

Ya, Politik memang dunia seribu kemungkinan, dan inilah yang barangkali bisa menjelaskan mengapa format-format koalisasi yang ada seperti itu. Ini semua karena peta politik, peta ideologi, peta ekonomi, dan peta sosial masyarakat yang ada di Jepara telah bergeser, yang dulu hijau sekarang agak merah, yang dulu santri sekarang nasionalis, yang dulu homogen sekarang heterogen, yang dulu ideologis sekarang pragmatis, yang dulu tradisionalis sekarang modernis, dan seterusnya. Tetapi yang patut digaris bawahi dan ini (mungkin) menjadi kebanggaan adalah keberanian partai-partai itu mengambil sikap dalam pengusungan calon ini. Partai-partai itu tidak lagi harusberkumpul dalam satu blok saja, tetapi memilih sikapnya sendiri-sendiri, mereka tidak lagi kecil hati dalam pencalonan ini, tetapi justru lebih percaya diri untuk mengusung pasangan calonnya sendiri, dan juga yang lebih menggemberikan adalah mereka ternyata cenderung mengusung kader-kader terbaiknya ; Yuli Nugroho – Nuruddin Amin oleh PDIP, PKB, PKS, PKNU dan partai lainnya, Khairon Syarifuddin – Ahmad Ja’far oleh partai Demokrat – Partai Hanura, Marzuki – Subroto oleh  PPP, PAN, PKP Indonesia dan Nur Yahman -Aris Isnandar oleh partai Golkar dan Partai Gerindra. Format pasangan inilah yang kita bisa sebut, cukup mencerminkan meningkatnya sikap-sikap partai dalam menunjukkan representasi  identitas ideologinya yang ada di Jepara sekarang ini, terlepas dari latar belakang atau yang mendasari pasrai-partai itu sampai pada keputusan mengusung mereka. Apapun yang terjadi dalam proses partai-partai itu menetukan pasangannya, yang bisa kita lihat adalah para kadernya yang terpilih untuk diusung menjadi pasangan calonnya. Situasi seperti inilah yang tidak kita jumpai dalam pemilukada yang lalu.

Selanjutnya, kini tinggal masyakat, sebagai warga pemilih, proses yang terjadi seperti ini jauh lebih baik, menunjukkan proses demokrasi yang berkualitas. Begitupun kita sebagai penyelenggara, KPU tentu saja akan lebih mudah dan  sangat terbantu dalam upaya menyukseskan pelaksanaan pemilukada  ini, terutama dalam hal memobilisasi kegiatan sosialisasinya dan upaya meningkatkan partisipasi publik.

Kembali pada pasangan bakal calon di atas, saat ini KPU masih melakukan penelitian (verifikasi) terhadap berkas persyaratannya, jika hasilnya nanti  tidak menemui masalah apapun terkait dengan persyaratan administrasi pencalonannya, dapat dipastikan pemilkuda kita esok akan diikuti oleh empat pasangan calon peserta pemilukada. Dan inilah yang kita sebut pelaksanaan pemilukada kita kali ini segalanya meningkat dibanding sebelumnya, meningkat jumlah calonnya, meningkat pasrtisipasi pemilihnya dan oleh karena itu harus meningkat kualitas demokrasinya, serta meningkat kualitas pemimpin yang terpilih nantinya. Semoga.[]./Muslim Asiha.

Satu Tanggapan to ““Laris manis…””

  1. Semoga Berjalan Lancar… Amin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: